CantikTakKenalKilogram

cinta yang nyaman

“mulai besok sebaiknya kamu jangan hubungi aku lagi,” kata perempuan itu pada laki-laki yang sedang memeluknya.

“kenapa, sayang?”

“aku akan menikah bulan depan.”

lelaki itu terkejut, segera melepaskan pelukannya lalu bangkit duduk dan memandang perempuan itu tajam.

“kamu serius?”

“ya, aku serius sayang.”

“kamu masih muda, kenapa menikah cepat cepat?”

“ini hidup aku, aku yang atur,” jawabnya pelan.

“tunggulah sebentar, beri aku waktu berpikir.”

“sudah dari setahun lalu aku menawarkan dan jawabanmu tetap sama. bahkan sampai kemarin sebelum aku menjawab ‘iya’ padanya, aku menanyakan lagi dan jawabanmu tetap sama. aku capek harus menunggu ketidakpastianmu.”

“tapi aku mencintai kamu, sayang.”

“tidak cukup hanya cinta. kamu dan keegoisanmu membuat kamu menargetkan kriteria dan menetapkan pola pikir yang terlalu kompleks. aku cuma ingin menikah. bodoh rasanya jika terus menunggu kamu, padahal di sisi lain ada orang yang sangat menginginkan aku.”

“jadi karena dia memiliki segalanya yang lebih daripada aku?”

“jangan pernah menghubungkan ini dengan materi. munafik rasanya kalau aku tidak memandang itu sebagai suatu pelengkap, tapi buat apa kaya jika aku tersiksa. aku pilih dia karena dengannya aku bisa menjadi diriku, dengannya aku bisa bermimpi mengenai esok dan tumbuh di dalamnya untuk merancang semua.”

“bagaimana bisa kamu menikah tanpa cinta?”

“cinta memang perlu, namun kamu coba renungkan. apa yang akan dilakukan oleh orang yang sudah menikah? bercinta sepanjang hari? seperti kita? tentu tidak. nantinya akan banyak masalah, akan banyak tantangan dan juga banyak waktu yang harus dihabiskan bersama. menemukan orang yang bisa diajak ngobrol dengan nyaman, itu yang penting buatku.”

“jadi denganku kamu tidak bisa ngobrol dengan nyaman? apa mungkin memang kamu tidak mencintai aku lagi?”

“sampai saat ini pun masih, bahkan kemarin sebelum pernyataan ‘iya’ ku untuknya, aku masih menawarkan kesempatan untuk merangkai hidup denganmu bukan? tapi kau selalu menyiakan itu. cintaku juga punya batas.”

“kalau kamu memang cinta, harusnya kamu diam dan bertahan. aku tidak pernah melihat itu ada padamu. harusnya kamu menungguku.”

“itu harusnya menurutmu, bukan menurutku. seperti yang aku bilang tadi, ini hidupku, aku yang atur. kita ga bisa maksa siapapun untuk mengatur hidupnya mengikuti apa yang kita mau. aku ingin menikah, kalau kamu mau, ayo kita menikah, kalau kamu tidak mau ya aku mencari siapa yang mau. simpel kan?”

“apa yang harus aku lakukan untuk perasaanku? kamu tidak pernah memikirkan rasanya menjadi aku?”

“sudah sering, sayang. coba diingat lagi, berapa kali aku menawarkan untuk kembali lagi ke dalam ritme kita yang dulu. tapi, kamu memang lebih nyaman untuk berada dalam ketidakjelasan ini.”

“tidak mungkin bagiku untuk menghancurkan dirimu.”

“aku dulu siap lebur, siap meninggalkan semuanya demi kamu. kamu yang tidak siap untuk memulai.”

“kamu mencintai dia?”

“perempuan bisa belajar mencintai. keseriusan, ketulusan dan penerimaannya membuatku nyaman. hal yang tidak pernah kudapatkan darimu.”

 

 

akhirnya lelaki itu terdiam. pandangannya jauh ke depan, kosong. bahkan dalam keadaan polos, tanpa make up dan pakaian, perempuan ini masih ingat akan perasaannya pada kekasihnya. tahukah perempuan yang baru saja digagahinya itu bahwa dirinya telah menghancurkan lelaki itu  dan segala keegoisannya.

Saya bertemu lagi dengannya..

Bertemu hanya lewat getaran dan gelombang yang direkayasakan sedemikian rupa..

Kami bertemu disaat semua sedang sibuk dengan dunianya..

Sehingga tiada satupun yang menyadari bahwa kami sedang menuliskan satu wacana dalam kitab besar hidup kami..

 

Simple, sederhana dan hanya tertawa..
Ternyata tak cukup waktu memisahkan kami. Tak kuat pula jarak membentang.  Tak juga kehadiran sesosok mahluk, mungkin dua dan tiga, diantara kami.

Yang kami punya hanya cerita masa lalu. Kisah usang yang akan selalu kami nikmati. Film pendek yang merangkum sebuah perjalanan waktu yang pernah kami lewati. Dan sebuah lorong kecil di hati yang selalu ada buat kami.

Mungkin jahat, tapi izinkan kami untuk menyisihkan sedikit saja. Untuk kami nikmati bersama.

 

Walau harus terpisah..

Kulminasiku sudah terlampaui,sayang..Aku sudah berada pada titik dimana aku menjelma menjadi alinea baru..

Yang sangat aku harapkan agar kedua vektor paralel ini bersinergi..
Meminta juga sedikit kakas Sang Khalik selayaknya momentum ini dijadikan..

Teori relativitas umum einstein menyatakan bahwa suatu benda yang konstan akan dilihat dalam bentuk sama oleh seluruh pengamat, baik yang bergerak dalam kecepatan diperlambat atau dipercepat..

Contohnya, jika seseorang berdiri di suatu titik, sambil memegang senter yang memancarkan cahaya ke suatu arah dimana ada 2 mobil bergerak dengan kecepatan berbeda..
Yang satu 30km/jam dan satunya 50km/jam..
Maka cahaya yang diterima oleh pengamat yang bergerak itu sama adanya..

Sama hal nya dengan perasaan..
Jika kita bisa bersikap konstan, dan memancarkan energi yang sama maka bentuk nya tetap sama..
Baik dilihat oleh pengamat yang bergerak cepat atau lambat..

Namun, yang membedakan tetaplah pada waktu..
Dimana pengamat yang bergerak lebih cepat akan sampai lebih dahulu ke sumber cahaya itu..

Ah, sayang..
Terlalu banyak kata yang bisa kujabarkan saat memendamnya..
Tapi sudahlah..
Kita hanyalah pengaplikasian big bang..
Dimana rasa ini terus tumbuh, membesar dan mengembang..
Sampai akhirnya memecah, memporakporandakan..
Namun hasilnya adalah baik..

Seperti bumi yang indah..
Yang dahulu terwujud dari gumpalan panas dan api..
Yang harus berproses..
Memecah, membelah..
Hingga terbentuk semesta baru..

Cepat sampai di sumberku ya sayang..
Aku menunggu..
🙂

Hukum coloumb adalah hukum yang menjelaskan hubungan antara gaya yang timbul pada dua titik muatan yang terpisahkan jarak tertentu.

Jika dibuat persamaan nya..

F = K*((Q1*Q2)/R^2)

dimana
F : gaya
K : konstanta
Q1,Q2 : muatan
R : jarak

sehingga
K adalah mutlak
Q1 dan Q2 adalah kita yang berbeda jenis sehingga yang terjadi pastilah gaya tarik menarik
R adalah jarak yang menseparasikan kita.
Rasanya tak ada lagi yang bisa diubah untuk memperbesar nilai F selain mengecilkan nilai R yang ada.

Would u?

“jam kosong nih, cabut yuk.”

“lapeeeer. subuh berangkat dari rumah, laki gw aja cuma gw siapin baju buat senam. ga sempet gw gosokin batiknya.”

“salah tau, sekarang kan hari sumpah pemuda. harusnya pake korpri, upacara.”

“lah, iya tooh? hahaha. ya sudahlah, paling salah kostum dia.”

“giloooo.”

“yaudah yuk, makaaan. tapi lu yang bawa mobil ya, ngantuk gw.”

“rapelan malem jumat sih. hahaha.”

“makanya nikah, ester. jadi ga kebanyakan teori di otak lu itu.”

saya terdiam. hmmm….

 

 

siapa yang ga pingin menikah? hayo tunjuk tangaaan!

*clingak-clinguk*

ga ada kannn??

 

 

————-

 

 

abaaaaang, nanti pokoknya kalo aku mau foto untuk pasfoto buat di buku wisudawan, sekalian foto indoor prewed ya. bosen aku dikatain melulu sama mahluk yang ga punya kompetensi untuk putih ini!”

“bisanya ngadu sama pacar! huhh, ga kerenn!”

“makanya, pacaran ria. jadi bisa ngadu. ya ga, bang? hahaha.

“nyetir yang bener, nyonya mau tidur. kalo teleponan sama pacarnya, jangan berisik!”

Tag: ,

Pengertian Standar Kompetensi Profesi

Standar :

  • ukuran tertentu yg dipakai sbg patokan , sesuatu yg dianggap tetap nilainya sehingga dapat dipakai sbg ukuran nilai dan sifatnya baku (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
  • a level of quality or attainment (Oxford Dictionary)

Kompetensi :

  • the ability to do something successfully or efficiently (Oxford Dictionary)
  • seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu (Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi)
  •  peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif. (Association K.U. Leuven)
  •  sebuah kombinasi antara ketrampilan (skill), atribut personal, dan pengetahuan (knowledge) yang tercermin melalui perilaku kinerja (job behavior) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi.
  • spesifikasi dari pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari pengetahuan dan keterampilan tersebut dalam suatu pekerjaan atau suatu perusahaan atau lintas industri, sesuai dengan standar kinerja yang disyaratkan.

Profesi :

  • bidang pekerjaan yg dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
  • a paid occupation, especially one that involves prolonged training and a formal qualification (Oxford Dictionary)

 

Sehingga jika digabungkan, standar kompetensi profesi adalah suatu yang bernilai tetap dan baku yang digunakan untuk mengukur pekerja dalam bidang pekerjaan keahlian tertentu apakah mampu, berpengetahuan cukup, terampil dan memiliki sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan keahliannya dengan efektif.

 

Dengan dikuasainya Kompetensi oleh seseorang, maka orang tersebut mampu:

  • • Mengerjakan suatu tugas/pekerjaan (task skill)
  • • Mengorganisasikannya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan (task management skill)
  • • Menyelesaikan masalah yang ada dan apa yang harus dilakukan, bilamana terjadi sesuatu keadaan yang berbeda dengan rencana semula (contingency management skill)
  • • Menghadapi tanggung jawab dan harapan dari lingkungan kerja termasuk bekerjasama dengan orang lain (job environment skill)
  • • Menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah atau melaksanakan tugas dengan kondisi yang berbeda (transfer skill / adaption skill)

 

Faktor-Faktor yang mendukung Standar Kompetensi adalah:

  • • Pengetahuan dan keterampilan untuk mengerjakan suatu tugas dalam kondisi normal ditempat kerja.
  • • Kemampuan mentransfer dan menerapkan kemampuan dan pengetahuan pada situasi dan lingkungan yang berbeda.
  • • Standar kompetensi tidak berarti bila hanya terdiri dari kemampuan menyelesaikan tugas/pekerjaan saja, tetapi dilandasi pula dengan bagaimana dan mengapa tugas itu dikerjakan.

 

 

Cara Penyusunan / Pengembangan Standar Kompetensi

Penyusunan standar kompetensi profesi
Penyusunan standar kompetensi profesi adalah dengan menggunakan metode pendekatan :
• Pendekatan Competency-based approach
Yaitu pendekatan yang dibuat dengan mengidentifikasi profil keahlian yang ideal dengan mempertimbangkan keadaan lingkungan strategis, baik internal maupun eksternal, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukungnya.

 

Teknis penyusunan standar kompetensi profesi adalah :
Pembentukan tim penyusun
Tim Penyusun idealnya terdiri dari asosiasi industri, profesi, praktisi yang secara teknis menguasai bidang keahlian yang akan dikembangkan, praktisi diklat dan ahli perumus standar kompetensi model.
Strategi dan metodologi
Adalah cara yang digunakan dalam menentukan standar standar kompetensi yang akan dibuat, merupakan penerapan dari pendekatan-pendekatan yang ada.
Kerangka penulisan standar kompetensi
Standar kompetensi pada dasarnya merupakan suatu dokumen yang dipergunakan sebagai acuan atau referensi untuk berbagai keperluan dan dipergunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan, untuk itulah dokumen tersebut harus informatif bagi para penggunanya. Agar dokumen tersebut informatif dan mudah digunakan maka biasanya suatu dokumen standar kompetensi memiliki kerangka penulisan yang baik.
Penyusunan draft standar kompetensi
Mengingat standar kompetensi pada dasarnya memuat sejumlah unit-unit kompetensi yang dibutuhkan dalam bidang keahlian/sektor industri tertentu, maka perumusan unit-unit kompetensi merupakan tahap yang paling menentukan dalam pengembangan standar tersebut. Pada umumnya penyusunan draf dilakukan oleh kelompok kerja yang memiliki ekpertis dibidangnya dan, memilki jumlah anggota yang ideal sekitar 15 s.d 21 orang.
Tahap penyusunan standar kompetensi
Standar kompetensi disusun melalui beberapa tahapan, yaitu pembentukan tim pengembang, pengumpulan referensi, penyusunan draf, validasi draf, pembahasan dalam workshop, penyempurnaan dan peluncuran versi pertama.
1. Pembentukan tim pengembang
Tim pengembang standar dibentuk dengan mengikutsertakan unsur-unsur praktisi, asosiasi profesi, asosiasi pengusaha, para pakar, praktisi pendidikan dan pelatihan, serikat pekerja yang terkait dan sesuai dengan bidang keahlian atau sektor industri yang akan dikembangkan. Tim pengembang tersebut dapat bersifat “ad hoc” dan akan berakhir bila telah menyelesaikan tugasnya.
2. Pengumpulan referensi
Data dan informasi yang berkaitan dengan penyusunan standar seperti uraian pekerjaan/jabatan, SOP yang terkait, manual, peraturan perundangan-undangan, standar produksi, kamus istilah, referensi adapatif dan referensi lain yang terkait dengan bidang keahlian/sektor industri yang akan dikembangkan dikumpulkan dan dipilah berdasar katagorinya.
3. Penyusunan draf I
Pada tahap ini draf standar kompetensi disusun dengan menetapkan lingkup bidang keahlian, mengidentifikasi unit-unit kompetensi, merumuskan sub-sub kompetensi untuk setiap unit kompetensi yang telah diidentifikasi, menetapkan kriteria unjuk kerja untuk setiap subkompetensi, menetapkan kondisi unjuk dan acuan penilaian dan menetapkan level kompetensi untuk setiap unit yang dirumuskan.
4. Validasi draf I
Draf I yang telah tersusun divalidasikan kepada pihak yang terkait atau “stake holder” yang kompeten, untuk memberikan masukan dan koreksi serta keterbacaan dari draf tersebut. Dalam proses validasi tersebut harus dilakukan secara sistimatis sesuai dengan kelaziman yang berlaku dalam kegiatan validasi suatu konsep.
5. Workshop
Workshop pengembangan standar kompetensi dimaksudkan untuk memperoleh masukan yang lebih komprehensif dari pihak yang terkait dan relevan.. Workshop harus diselenggarakan secara formal pada tingkat nasional, agar hasil dari kegiatan tersebut sekaligus sebagai bagian dari serta merupakan wahana untuk sosialisasi sekaligus pengakuan atau”keberterimaan” atas standar kompetensi dimaksud secara nasional.
6. Penyempurnaan hasil
Draf yang telah dibahas dan disepakati dalam workshop disempurnakan pada aspek penyempurnaan bahasa, kesalahan ketik, peristilahan teknis dan non teknis selanjutnya dilakukan pengesahan sebagai Standar Kompetensi Versi Pertama.

 

Penyusunan standar dengan mengikuti prosedur dan mekanisme yang benar akan menghasilkan standar kompetensi :

  • • Fleksibel tetapi tetap terukur
  • • Terinci tetapi tetap terbuka terhadap penyesuaian
  • • Mampu menjadi alat ukur yang realible untuk mengukur kompetensi personil dan dapat menjadi acuan yang valid untuk penyusunan program diklat dan kurikulum

 

Pengembangan Standar Kompetensi Profesi
Standar kompetensi profesi yang ada dan sudah berjalan tentunya berkembang seiring dengan perubahan jaman dan teknologi. Terdapat beberapa cara mengembangkan standar kompotensi, yaitu:
1. Pendekatan benchmark, adopt dan adapt
Pendekatan “benchmark, adopt & adapt” adalah dengan mempelajari dan membandingkan standar-standar kompetensi yang telah ada di berbagai negara maju atau sedang berkembang, standar yang dibutuhkan diadopsi dan disesuaikan dengan kebutuhan. Setelah melalui validasi, uji coba dan sosialisasi, standar tersebut dapat ditetapkan sebagai standar kompetensi edisi pertama
2. Pendekatan field research
Pendekatan “field research” dimaksudkan adalah dengan mengadakan riset di lapangan untuk menghimpun data primer tentang pekerjaan-pekerjaan yang ada kemudian dirumuskan ke dalam draf standar kompetensi, divalidasi, diuji coba, dikaji ulang, disosialisasi dan ditetapkan.
3. Pendekatan Kombinasi (komprehensif)
Pendekatan kombinasi adaah dengan memadukan kedua hal tersebut di atas, untuk mengurangi kekurangan dan kelemahan yang ada dan untuk meningkatkan keunggulan dari kedua metode tersebut

 

 

Daftar Pustaka
Alwi Hasan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2001
A. S, Homby, Oxford Advanced Learner Dictionary Of Current English, Oxford University Press :New York, 1995.
Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.
Pedoman Penyusunan Standar Kompetensi Kerja – Badan Nasional Sertifikasi Profesi Tahun 2005
Pedoman Penyusunan Standar Kompetensi- Majelis Pendidikan Kejuran Nasional Tahun 1997.
Slameto, Drs, Evaluasi Pendidikan , Penerbit Bumi Aksara Cetakan Ketiga tahun 2001