CantikTakKenalKilogram

(bukan) berhenti di kamu

Posted on: November 23, 2011

cinta yang nyaman

“mulai besok sebaiknya kamu jangan hubungi aku lagi,” kata perempuan itu pada laki-laki yang sedang memeluknya.

“kenapa, sayang?”

“aku akan menikah bulan depan.”

lelaki itu terkejut, segera melepaskan pelukannya lalu bangkit duduk dan memandang perempuan itu tajam.

“kamu serius?”

“ya, aku serius sayang.”

“kamu masih muda, kenapa menikah cepat cepat?”

“ini hidup aku, aku yang atur,” jawabnya pelan.

“tunggulah sebentar, beri aku waktu berpikir.”

“sudah dari setahun lalu aku menawarkan dan jawabanmu tetap sama. bahkan sampai kemarin sebelum aku menjawab ‘iya’ padanya, aku menanyakan lagi dan jawabanmu tetap sama. aku capek harus menunggu ketidakpastianmu.”

“tapi aku mencintai kamu, sayang.”

“tidak cukup hanya cinta. kamu dan keegoisanmu membuat kamu menargetkan kriteria dan menetapkan pola pikir yang terlalu kompleks. aku cuma ingin menikah. bodoh rasanya jika terus menunggu kamu, padahal di sisi lain ada orang yang sangat menginginkan aku.”

“jadi karena dia memiliki segalanya yang lebih daripada aku?”

“jangan pernah menghubungkan ini dengan materi. munafik rasanya kalau aku tidak memandang itu sebagai suatu pelengkap, tapi buat apa kaya jika aku tersiksa. aku pilih dia karena dengannya aku bisa menjadi diriku, dengannya aku bisa bermimpi mengenai esok dan tumbuh di dalamnya untuk merancang semua.”

“bagaimana bisa kamu menikah tanpa cinta?”

“cinta memang perlu, namun kamu coba renungkan. apa yang akan dilakukan oleh orang yang sudah menikah? bercinta sepanjang hari? seperti kita? tentu tidak. nantinya akan banyak masalah, akan banyak tantangan dan juga banyak waktu yang harus dihabiskan bersama. menemukan orang yang bisa diajak ngobrol dengan nyaman, itu yang penting buatku.”

“jadi denganku kamu tidak bisa ngobrol dengan nyaman? apa mungkin memang kamu tidak mencintai aku lagi?”

“sampai saat ini pun masih, bahkan kemarin sebelum pernyataan ‘iya’ ku untuknya, aku masih menawarkan kesempatan untuk merangkai hidup denganmu bukan? tapi kau selalu menyiakan itu. cintaku juga punya batas.”

“kalau kamu memang cinta, harusnya kamu diam dan bertahan. aku tidak pernah melihat itu ada padamu. harusnya kamu menungguku.”

“itu harusnya menurutmu, bukan menurutku. seperti yang aku bilang tadi, ini hidupku, aku yang atur. kita ga bisa maksa siapapun untuk mengatur hidupnya mengikuti apa yang kita mau. aku ingin menikah, kalau kamu mau, ayo kita menikah, kalau kamu tidak mau ya aku mencari siapa yang mau. simpel kan?”

“apa yang harus aku lakukan untuk perasaanku? kamu tidak pernah memikirkan rasanya menjadi aku?”

“sudah sering, sayang. coba diingat lagi, berapa kali aku menawarkan untuk kembali lagi ke dalam ritme kita yang dulu. tapi, kamu memang lebih nyaman untuk berada dalam ketidakjelasan ini.”

“tidak mungkin bagiku untuk menghancurkan dirimu.”

“aku dulu siap lebur, siap meninggalkan semuanya demi kamu. kamu yang tidak siap untuk memulai.”

“kamu mencintai dia?”

“perempuan bisa belajar mencintai. keseriusan, ketulusan dan penerimaannya membuatku nyaman. hal yang tidak pernah kudapatkan darimu.”

 

 

akhirnya lelaki itu terdiam. pandangannya jauh ke depan, kosong. bahkan dalam keadaan polos, tanpa make up dan pakaian, perempuan ini masih ingat akan perasaannya pada kekasihnya. tahukah perempuan yang baru saja digagahinya itu bahwa dirinya telah menghancurkan lelaki itu  dan segala keegoisannya.

2 Tanggapan to "(bukan) berhenti di kamu"

Saya menengok via ngerumpi🙂 Bagus, suka tulisan ini.

Makasiii kaakak.. Hehehe.. Newbie ni kakaak..
Mohon bantuannya..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: