CantikTakKenalKilogram

PENYUSUNAN / PENGEMBANGAN STANDAR KOMPETENSI PROFESI

Posted on: Oktober 27, 2011

Pengertian Standar Kompetensi Profesi

Standar :

  • ukuran tertentu yg dipakai sbg patokan , sesuatu yg dianggap tetap nilainya sehingga dapat dipakai sbg ukuran nilai dan sifatnya baku (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
  • a level of quality or attainment (Oxford Dictionary)

Kompetensi :

  • the ability to do something successfully or efficiently (Oxford Dictionary)
  • seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu (Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi)
  •  peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif. (Association K.U. Leuven)
  •  sebuah kombinasi antara ketrampilan (skill), atribut personal, dan pengetahuan (knowledge) yang tercermin melalui perilaku kinerja (job behavior) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi.
  • spesifikasi dari pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari pengetahuan dan keterampilan tersebut dalam suatu pekerjaan atau suatu perusahaan atau lintas industri, sesuai dengan standar kinerja yang disyaratkan.

Profesi :

  • bidang pekerjaan yg dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
  • a paid occupation, especially one that involves prolonged training and a formal qualification (Oxford Dictionary)

 

Sehingga jika digabungkan, standar kompetensi profesi adalah suatu yang bernilai tetap dan baku yang digunakan untuk mengukur pekerja dalam bidang pekerjaan keahlian tertentu apakah mampu, berpengetahuan cukup, terampil dan memiliki sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan keahliannya dengan efektif.

 

Dengan dikuasainya Kompetensi oleh seseorang, maka orang tersebut mampu:

  • • Mengerjakan suatu tugas/pekerjaan (task skill)
  • • Mengorganisasikannya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan (task management skill)
  • • Menyelesaikan masalah yang ada dan apa yang harus dilakukan, bilamana terjadi sesuatu keadaan yang berbeda dengan rencana semula (contingency management skill)
  • • Menghadapi tanggung jawab dan harapan dari lingkungan kerja termasuk bekerjasama dengan orang lain (job environment skill)
  • • Menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah atau melaksanakan tugas dengan kondisi yang berbeda (transfer skill / adaption skill)

 

Faktor-Faktor yang mendukung Standar Kompetensi adalah:

  • • Pengetahuan dan keterampilan untuk mengerjakan suatu tugas dalam kondisi normal ditempat kerja.
  • • Kemampuan mentransfer dan menerapkan kemampuan dan pengetahuan pada situasi dan lingkungan yang berbeda.
  • • Standar kompetensi tidak berarti bila hanya terdiri dari kemampuan menyelesaikan tugas/pekerjaan saja, tetapi dilandasi pula dengan bagaimana dan mengapa tugas itu dikerjakan.

 

 

Cara Penyusunan / Pengembangan Standar Kompetensi

Penyusunan standar kompetensi profesi
Penyusunan standar kompetensi profesi adalah dengan menggunakan metode pendekatan :
• Pendekatan Competency-based approach
Yaitu pendekatan yang dibuat dengan mengidentifikasi profil keahlian yang ideal dengan mempertimbangkan keadaan lingkungan strategis, baik internal maupun eksternal, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukungnya.

 

Teknis penyusunan standar kompetensi profesi adalah :
Pembentukan tim penyusun
Tim Penyusun idealnya terdiri dari asosiasi industri, profesi, praktisi yang secara teknis menguasai bidang keahlian yang akan dikembangkan, praktisi diklat dan ahli perumus standar kompetensi model.
Strategi dan metodologi
Adalah cara yang digunakan dalam menentukan standar standar kompetensi yang akan dibuat, merupakan penerapan dari pendekatan-pendekatan yang ada.
Kerangka penulisan standar kompetensi
Standar kompetensi pada dasarnya merupakan suatu dokumen yang dipergunakan sebagai acuan atau referensi untuk berbagai keperluan dan dipergunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan, untuk itulah dokumen tersebut harus informatif bagi para penggunanya. Agar dokumen tersebut informatif dan mudah digunakan maka biasanya suatu dokumen standar kompetensi memiliki kerangka penulisan yang baik.
Penyusunan draft standar kompetensi
Mengingat standar kompetensi pada dasarnya memuat sejumlah unit-unit kompetensi yang dibutuhkan dalam bidang keahlian/sektor industri tertentu, maka perumusan unit-unit kompetensi merupakan tahap yang paling menentukan dalam pengembangan standar tersebut. Pada umumnya penyusunan draf dilakukan oleh kelompok kerja yang memiliki ekpertis dibidangnya dan, memilki jumlah anggota yang ideal sekitar 15 s.d 21 orang.
Tahap penyusunan standar kompetensi
Standar kompetensi disusun melalui beberapa tahapan, yaitu pembentukan tim pengembang, pengumpulan referensi, penyusunan draf, validasi draf, pembahasan dalam workshop, penyempurnaan dan peluncuran versi pertama.
1. Pembentukan tim pengembang
Tim pengembang standar dibentuk dengan mengikutsertakan unsur-unsur praktisi, asosiasi profesi, asosiasi pengusaha, para pakar, praktisi pendidikan dan pelatihan, serikat pekerja yang terkait dan sesuai dengan bidang keahlian atau sektor industri yang akan dikembangkan. Tim pengembang tersebut dapat bersifat “ad hoc” dan akan berakhir bila telah menyelesaikan tugasnya.
2. Pengumpulan referensi
Data dan informasi yang berkaitan dengan penyusunan standar seperti uraian pekerjaan/jabatan, SOP yang terkait, manual, peraturan perundangan-undangan, standar produksi, kamus istilah, referensi adapatif dan referensi lain yang terkait dengan bidang keahlian/sektor industri yang akan dikembangkan dikumpulkan dan dipilah berdasar katagorinya.
3. Penyusunan draf I
Pada tahap ini draf standar kompetensi disusun dengan menetapkan lingkup bidang keahlian, mengidentifikasi unit-unit kompetensi, merumuskan sub-sub kompetensi untuk setiap unit kompetensi yang telah diidentifikasi, menetapkan kriteria unjuk kerja untuk setiap subkompetensi, menetapkan kondisi unjuk dan acuan penilaian dan menetapkan level kompetensi untuk setiap unit yang dirumuskan.
4. Validasi draf I
Draf I yang telah tersusun divalidasikan kepada pihak yang terkait atau “stake holder” yang kompeten, untuk memberikan masukan dan koreksi serta keterbacaan dari draf tersebut. Dalam proses validasi tersebut harus dilakukan secara sistimatis sesuai dengan kelaziman yang berlaku dalam kegiatan validasi suatu konsep.
5. Workshop
Workshop pengembangan standar kompetensi dimaksudkan untuk memperoleh masukan yang lebih komprehensif dari pihak yang terkait dan relevan.. Workshop harus diselenggarakan secara formal pada tingkat nasional, agar hasil dari kegiatan tersebut sekaligus sebagai bagian dari serta merupakan wahana untuk sosialisasi sekaligus pengakuan atau”keberterimaan” atas standar kompetensi dimaksud secara nasional.
6. Penyempurnaan hasil
Draf yang telah dibahas dan disepakati dalam workshop disempurnakan pada aspek penyempurnaan bahasa, kesalahan ketik, peristilahan teknis dan non teknis selanjutnya dilakukan pengesahan sebagai Standar Kompetensi Versi Pertama.

 

Penyusunan standar dengan mengikuti prosedur dan mekanisme yang benar akan menghasilkan standar kompetensi :

  • • Fleksibel tetapi tetap terukur
  • • Terinci tetapi tetap terbuka terhadap penyesuaian
  • • Mampu menjadi alat ukur yang realible untuk mengukur kompetensi personil dan dapat menjadi acuan yang valid untuk penyusunan program diklat dan kurikulum

 

Pengembangan Standar Kompetensi Profesi
Standar kompetensi profesi yang ada dan sudah berjalan tentunya berkembang seiring dengan perubahan jaman dan teknologi. Terdapat beberapa cara mengembangkan standar kompotensi, yaitu:
1. Pendekatan benchmark, adopt dan adapt
Pendekatan “benchmark, adopt & adapt” adalah dengan mempelajari dan membandingkan standar-standar kompetensi yang telah ada di berbagai negara maju atau sedang berkembang, standar yang dibutuhkan diadopsi dan disesuaikan dengan kebutuhan. Setelah melalui validasi, uji coba dan sosialisasi, standar tersebut dapat ditetapkan sebagai standar kompetensi edisi pertama
2. Pendekatan field research
Pendekatan “field research” dimaksudkan adalah dengan mengadakan riset di lapangan untuk menghimpun data primer tentang pekerjaan-pekerjaan yang ada kemudian dirumuskan ke dalam draf standar kompetensi, divalidasi, diuji coba, dikaji ulang, disosialisasi dan ditetapkan.
3. Pendekatan Kombinasi (komprehensif)
Pendekatan kombinasi adaah dengan memadukan kedua hal tersebut di atas, untuk mengurangi kekurangan dan kelemahan yang ada dan untuk meningkatkan keunggulan dari kedua metode tersebut

 

 

Daftar Pustaka
Alwi Hasan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2001
A. S, Homby, Oxford Advanced Learner Dictionary Of Current English, Oxford University Press :New York, 1995.
Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.
Pedoman Penyusunan Standar Kompetensi Kerja – Badan Nasional Sertifikasi Profesi Tahun 2005
Pedoman Penyusunan Standar Kompetensi- Majelis Pendidikan Kejuran Nasional Tahun 1997.
Slameto, Drs, Evaluasi Pendidikan , Penerbit Bumi Aksara Cetakan Ketiga tahun 2001

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: